Jurnalis bernama Ismail Lali, 28 tahun, mengatakan penyelundup menghasilkan banyak uang dari krisis ini. “Orang-orang putus asa ingin pergi sehingga penyelundup mengenakan tarif sesuka hati,” kata Lali, yang juga berasal dari etnis Hazara.
Untuk bisa diselundupkan ke Kota Quetta, Pakistan, pada Agustus lalu, dia membayar 700 dolar, termasuk suap, namun kata teman-temannya tarif itu sekarang naik menjadi 800 dolar. “Ini bisnis yang menguntungkan buat penyelundup, juga bagi polisi Pakistan,” kata dia, menambahkan.
Sejak tiba di Quetta, dia mengatakan telah membayar suap 200 dolar ke oknum polisi setelah berkali-kali dihentikan dan diancam dideportasi. Sekarang dia tidak berani ke luar rumah. Seorang inspektur polisi di Quetta mengatakan petugas mendapat perintah yang tegas untuk tidak melecehkan warga Afghanistan.
Pasukan keamanan yang bertugas di pos-pos pemeriksaan tidak menjawab panggilan telepon. Para ahli migrasi memperkirakan sejumlah warga Afghanistan di Pakistan dan Iran akan berangkat ke Turki dan Eropa pada musim semi ini.
Pada Januari, badan pengungsi PBB UNHCR menyerukan bantuan senilai 623 juta dolar untuk membantu warga Afghanistan yang mengungsi dan masyarakat yang menampung mereka di negara-negara tetangga. Badan itu juga mendesak negara-negara lain untuk tetap membuka perbatasannya dan menunda deportasi.
UNHCR mengatakan Iran telah memulangkan lebih dari 1.100 warga Afghanistan per hari selama Januari. Jumlah yang lebih kecil telah dideportasi dari Pakistan. Mereka termasuk ibu Sae dan tiga saudara perempuannya, yang dipulangkan pada Desember.
Taliban telah mendatangi keluarga itu di Kabul untuk menanyakan keberadaan sang jaksa. Sae jarang meninggalkan apartemennya di Islamabad karena takut dideportasi. “Taliban atau tawanan yang mereka lepaskan akan membunuh saya,” kata dia.










