Ketika Penumpang KM Bukit Raya Berjuang Menghirup Napas

Foto: Suasana penumpang di Dek 3 KM. Bukit Raya gerah kepanasan dan sulit bernapas

Anambas, Metrosidik–Minggu malam, 21 Juni 2026, seharusnya menjadi waktu beristirahat bagi ratusan penumpang KM Bukit Raya yang berlayar dari Pelabuhan Tarempa menuju Kijang. Setelah seharian beraktivitas dan menempuh perjalanan laut yang panjang, mereka berharap dapat memejamkan mata sembari menikmati fasilitas yang semestinya tersedia di kapal milik negara tersebut.

Namun harapan itu berubah menjadi malam yang melelahkan.

Di tengah pelayaran, sistem pendingin udara atau Air Conditioner (AC) di sejumlah ruang penumpang dilaporkan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Udara di dalam kapal menjadi pengap dan panas. Bagi sebagian penumpang, kondisi itu bukan sekadar mengganggu kenyamanan, tetapi juga membuat mereka kesulitan bernapas.

Suasana di dalam dek 3 penumpang dipenuhi keluhan. Banyak yang memilih tetap terjaga karena tidak mampu beristirahat di tengah kondisi yang sesak.

“Parah kite, AC nye tak nyale. Jangankan nak tidur, untuk bernapas pun susah,” keluh seorang penumpang yang berada di Dek 3 saat ditemui di atas kapal.

Keluhan tersebut menggambarkan bagaimana malam itu menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Di ruang yang dipadati penumpang, sirkulasi udara yang tidak optimal membuat rasa lelah bercampur dengan kekhawatiran. Sebagian penumpang terlihat berusaha mencari tempat yang sedikit lebih sejuk, sementara lainnya hanya bisa bertahan karena membawa kipas listrik sembari menunggu kondisi membaik.

Ironisnya, persoalan tidak berhenti pada fasilitas pendingin udara. Penumpang juga mengeluhkan tidak tersedianya air tawar di toilet kapal. Kondisi ini semakin memperburuk pelayanan dasar yang seharusnya menjadi hak setiap pengguna jasa transportasi laut.

Bagi masyarakat kepulauan, kapal Pelni bukan sekadar alat transportasi. Kapal adalah urat nadi kehidupan yang menghubungkan keluarga, aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan antarwilayah. Karena itu, kehadiran kapal negara tidak hanya dituntut mampu mengangkut penumpang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain, tetapi juga menjamin keselamatan, kenyamanan, dan pelayanan yang layak selama perjalanan.

Baca juga  Riau Dalam Sehari 570 Orang Positif Covid-19, 15 Meninggal

KM Bukit Raya yang dioperasikan oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) sebagai perusahaan pelayaran milik negara memiliki tanggung jawab besar dalam memenuhi standar pelayanan publik tersebut. Gangguan fasilitas seperti AC yang tidak berfungsi dan ketersediaan air bersih yang terganggu bukan hanya persoalan teknis semata, melainkan menyangkut kenyamanan bahkan kesehatan para penumpang.

Peristiwa yang terjadi pada pelayaran Tarempa-Kijang ini menjadi pengingat bahwa pelayanan transportasi laut di wilayah kepulauan masih memerlukan perhatian serius. Di tengah gelapnya malam dan luasnya lautan, para penumpang hanya menginginkan satu hal sederhana: perjalanan yang aman dan manusiawi.

Sebab bagi mereka, membeli tiket bukan hanya membayar untuk sampai ke tujuan, tetapi juga untuk mendapatkan hak atas pelayanan yang layak selama berada di perjalanan.

 

jasa website rumah theme

Pos terkait