Muncul Lagi Virus Marburg Yang Mematikan, WHO Siapkan Rencana Kesiapsiagaan

Muncul Lagi Virus Marburg Yang Mematikan, WHO Siapkan Rencana Kesiapsiagaan
Logo World Health Organization (WHO). (Foto: AP Photo/Anja Niedringhaus)

METROSIDIK.CO.ID, JENEWA — Di tengah pandemi COVID-19, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO melaporkan kasus penyakit virus Marburg, yang sangat menular yang menyebabkan demam berdarah.

Virus mematikan ini satu keluarga dengan Ebola dan ditularkan ke manusia melalui kelelawar buah.

“WHO akan mencegah wabah Marburg dengan mempertahankan pengawasan dan mendukung negara-negara berisiko untuk mengembangkan rencana kesiapsiagaan,” sebut WHO di laman resminya.

Kasus virus Marburg terdeteksi di Prefektur Gueckedou, Guinea. Dan, kasus itu muncul selang kurang dari dua bulan setelah negara Afrika tersebut mengumumkan berakhirnya wabah Ebola pada tahun ini yang menewaskan 12 orang.

Baca juga  Kepala Dinas Katu Terseret Dugaan Korupsi Dana Desa

Pasien yang terjangkit virus Marburg adalah seorang pria yang meninggal pada 2 Agustus lalu, delapan hari setelah timbul gejala. Desa tempat dia tinggal berada di dekat perbatasan Guinea dengan Sierra Leone dan Liberia.

Ini merupakan kasus pertama yang diketahui dari penyakit virus Marburg di Guinea dan Afrika Barat.

Melansir laman UN News, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, Kementerian Kesehatan Guinea melaporkan kasus tersebut ke organisasinya pada Jumat (6/8/2021) pekan lalu.

Pasien mengalami gejala pada 25 Juli. Lalu, 1 Agustus, ia mengunjungi fasilitas kesehatan kecil di dekat desa tempat tinggalnya dengan gejala demam, sakit kepala, kelelahan, sakit perut, dan pendarahan gusi.

Baca juga  Omicron Menyebar Seluruh Dunia, WHO Setujui Dua Obat Baru Covid-19

Tes diagnostik cepat untuk malaria dilakukan dan hasilnya negatif. Pasien lalu menjalani perawatan suportif dengan rehidrasi, antibiotik parenteral, dan pengobatan untuk mengatasi gejala.

 

Tingkat kematian hampir 90%

Menurut Tedros, WHO mendukung pihak berwenang Guinea dalam menyelidiki sumber wabah, melacak kontak, dan membentuk komunitas lokal tentang langkah-langkah perlindungan.

“Sekitar 150 kontak telah diidentifikasi dan sedang ditindaklanjuti, termasuk tiga anggota keluarga dan seorang petugas kesehatan, yang telah diidentifikasi sebagai kontak erat berisiko tinggi,” katanya.

Baca juga  KPK Tahan Tersangka Hakim Agung Sudrajad Kasus Suap Urus Perkara di MA

Prefektur Gueckedou adalah wilayah yang sama, di mana wabah Ebola merebak di Guinea tahun ini, serta awal wabah Afrika Barat 2014–2016 terdeteksi.

Penyakit virus Marburg memiliki tingkat kematian hampir 90%, menurut WHO. Saat ini, tidak ada pengobatan untuk melawannya, meskipun vaksin sedang dikembangkan.

Tetapi, rehidrasi dengan cairan oral atau intravena dan pengobatan gejala tertentu bisa meningkatkan kelangsungan hidup pasien yang terpapar virus Marburg.

Baca juga  Informasi Varian Baru Covid-19 dari WHO

Wabah Marburg sebelumnya secara sporadis di benua Afrika dilaporkan terjadi di Angola, Republik Demokratik Kongo, Kenya, Afrika Selatan, dan Uganda. Terakhir kali terjadi pada 2017 di Uganda.

Penyakit ini pertama kali terdeteksi pada 1967 silam, menyusul dua wabah besar secara bersamaan di laboratorium di Kota Marburg, Jerman, dan di Beograd, ibu kota Yugoslavia saat itu.

 

 

jasa website rumah theme

Pos terkait