JAKARTA, METROSIDIK.CO.ID — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan Indonesia akan memiliki ‘pasar’ sendiri dalam mengembangkan berbagai produk dalam negeri, baik dunia teknologi informasi, produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) hingga pengembangan startup-startup yang sedang dibangun oleh anak-anak muda Indonesia.
Ditekankan dia, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia menjadi modal utama bagi bangsa ini untuk berdiri sendiri, tanpa harus mengimpor produk dari negara luar.
“Sudah waktunya Indonesia punya ekosistem sendiri, punya roadmap sendiri, bukan ekosistem China, bukan ekosistem Amerika tapi ekosistem Indonesia,” kata Erick dalam seminar di Institut Informatika Dan Bisnis Darmajaya Lampung dengan tema ‘Peran Pemerintah dan Masyarakat Dalam Mewujudkan Visi Indonesia Emas 2024’, Minggu (30/1/2022).
Dikatakan putra asli Gunung Sugih Lampung Tengah ini, bangsa Indonesia harus memiliki ekosistem sendiri agar sumber daya alam yang melimpah ini bisa dipergunakan untuk kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, langkah ini mampu menciptakan market sendiri tanpa harus mengharapkan market luar negeri, karena jika yang diharapkan adalah market luar maka ekonomi bangsa lain akan terus meningkat dan ekonomi Indonesia dipastikan runtuh.
“Kalau kita tidak punya itu akhirnya apa, kembali kaya jaman dulu sumber daya alam kita tidak dipakai untuk pertumbuhan kesejahteraan bangsa kita, tidak dipakai untuk pertumbuhan ekonomi kita, market kita yang besar tidak dipakai untuk pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat dan ekonomi kita,” ucapnya.
Dia menjelaskan, langkah menciptakan ekosistem sendiri akan terealisasi bila anak bangsa mengesampingkan ego sektoral, dan bersama-sama mencari jalan terbaik agar kualitas anak-anak Indonesia terpakai dalam dunia usaha.
“Kenapa pertumbuhan ekonomi kita dipakai untuk bangsa lain, karena membangun ekosistem adalah menaruh semua ego sektoral di tengah dan mencari titik solusinya, bukan siapa yang terbaik, siapa yang terhebat. Di dunia korporasi cara mendapat pendanaan ada dua cara sekarang ada minjem, ada di invest,” jelasnya.
Diungkapkan Erick, banyak perusahaan besar sekarang itu terjadi karena di investasi, tidak ada satu perusahaan startup foundernya memiliki 90 persen seperti zaman dulu, para konglomerat di Indonesia menguasai mayoritas asetnya.
“Berubah, founder-founder startup paling punya saham 5 persen, itupun masa waktunya harus di rubah, kenapa dengan adanya profesional yang masuk,” ungkapnya.
Erick pun memastikan posisi Pemerintah lewat Kementerian BUMN hadir untuk memastikan posisinya sebagai penyeimbang di saat ekonomi yang tidak seimbang itu.
“Karena pada saat Covid-19 terjadi yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, yang besar makin besar dan yang kecil makin kecil. Akhirnya apa, harus diintervensi,” tukasnya.











