Menurut dia, niatan untuk merangkul semua dari TNI harus didukung. Sebab, kata dia, bagaimanapun gerakan separatis yang dilakukan warga Papua di hutan-hutan tetap saudara satu bangsa. “Yang berbeda hanya pikiran,” kata dia.
Tapi dia memaklumi apabila TNI yang telah merangkul namun dibalas dengan senjata, hal itu perlu dilakukan dengan pendekatan lain. Hanya saja, tujuan utamanya tetap, yakni merangkul semua yang ada di hutan-hutan untuk kembali bersama membangun Papua.
“Sepanjang orang itu masih bisa kita panggil, kita bicara, kita bangun komunikasi, kita harus rangkul,” ujar dia.
Dia juga berpendapat, TNI tidak bisa memaksakan mereka yang memilih jalan perang. Jangan disamakan pemikiran yang tinggal di gunung dengan mereka yang kini bermukim di Biak, Jayapura. Mereka telah menerima pembangunan.
“Tinggal kita sebagai negara, bagaimana mau mengerti perbedaan-perbedaan itu. Sehingga mau lebih sabar menangani perbedaan- perbedaan itu. Lebih tabah, lebih tulus lagi untuk menerima perbedaan-perbedaan itu,” ujar dia.
“Problem Papua itu cuma satu, orang harus bekerja untuk negeri ini dengan sungguh-sungguh dan negara ini harus kirim orang yang punya hati untuk bangun Papua itu saja,” tambah dia.











