Siapkah Hadapi Perang Hybrid?
Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menilai alutsista TNI saat ini belum mencapai Minimum Essential Force (MEF) atau Kekuatan Pokok Minimum. Sehingga tak heran kekuatan militer Indonesia saat ini ada di peringkat 16 dunia.
Khairul mengatakan, lebih dari 50 persen alutsista TNI sudah cukup tua dan teknologinya jauh tertinggal.
“Perlu moderensiasi TNI secara umum, juga perkembangan atau progres moderinisasi di tiap matra artinya jangan sampai timpang. Misal angkatan darat sudah 80 persen alutsista dalam kondisi baik sementara angkatan laut baru sekitar 60 persen. Angkatan udara misal belum sampai 50 persen, itu kan timpang justru akan nggak bagus buat sektor pertahanan kita,” kata Khairul di Jakarta, Senin (4/10/2021).
Selain alutsista, kata Khairul, moral dan kompetensi prajurit juga harus ditingkatkan. Moral artinya terkait kedisplinan, kepatuhan, sementara kompetensi terkait pemahaman dan kemampuan menjalankan tugas dan fungsinya.
“Dia misalnya termasuk bagian yang menggunakan tank tentu saja harus sangat qualified di situ jangan asal-asalan itu yang saya kira kompetensi pengembangan, spesialisasi menjadi hal penting selain peremajaan alutsista,” kata dia.
Dia berharap di HUT ke-76 TNI ini, militer Indonesia mendapat hadiah berupa moderenisasi alutsista.
Selain alutsista berupa persenjataan, Khairul juga menyoroti pertahanan siber yang belum ideal. “Bahkan saya kira masih banyak yang harus disiapkan untuk mencapai kemampuan pertahanan siber yang baik,” ujar Khairul.
Apalagi di masa depan, dimungkinkan adanya perang kombinasi antara siber dan konvensional.
“Perang hybrid itu yang harus diantisipasi, masih banyak (yang harus diperkuat) bukan hanya alutsista yang diperkuat,” kata dia.
Sehingga dia berharap segera ada pembahasan untuk menciptakan pertahanan siber yang mumpuni.
“Karena menyangkut aspek hybrida sehingga ini harus bersama-sama menyiapkan nggak bisa sendiri-sendiri,” tandas Khairul.
Sementara Pengamat Pertahanan Keamanan dan Intelijen, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati menilai modernisasi alutsista merupakan keniscayaan. Dia berharap biaya pembangunan kekuatan pertahanan tidak nilai sebagai biaya yang harus dikeluarkan, namun justru investasi yang akan memberikan keuntungan bagi masyarakat Indonesia.
“Pengembangan Alutsista sesuai dengan MEF adalah investasi untuk keutuhan NKRI dan menjamin keberlangsungan pembangunan nasional,” kata Susaningtyas di Jakarta, Senin (4/10/2021).
Sebab, kata dia, tanpa alutsista yang handal, maka pembangunan nasional dapat terganggu bahkan terhambat.
“Sudah saatnya pemerintah memberikan alokasi anggaran pertahanan dengan skema prosentase PDB. Dibandingkan dengan beberapa negara, maka nilai yang moderat sekitar 1,8 sampai 2 persen dari PDB,” tandas Susaningtyas.











