Jika efektivitas vaksin yang dipakai kurang dari 90 persen dalam mencegah penularan virus, atau jika ada varian virus baru, persentase cakupan vaksinasi harus lebih besar lagi.
Hasil studi preprint atau pracetak dari penelitian laboratorium menunjukkan bahwa antibodi penawar dalam darah orang yang telah terjangkit Covid-19 kurang mampu mengenali varian virus yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan (disebut 501Y.V2) dibandingkan varian yang beredar lebih awal dalam pandemi.
Lebih dari 70 persen peneliti yang disurvei oleh Nature percaya bahwa kemampuan untuk beradaptasi dan menghindari pertahanan kekebalan akan mendorong sirkulasi SARS-CoV-2 yang berkelanjutan.
Akibatnya, vaksin yang diperbarui mungkin perlu dikembangkan dan diberikan, mungkin setiap tahun seperti vaksin flu.
Dampak SARS-CoV-2 di masa depan juga akan bergantung pada seberapa baik virus itu berkembang dalam populasi hewan liar.
Beberapa penyakit yang telah dikendalikan, termasuk demam kuning, Ebola, dan virus chikungunya, bertahan karena penampungan hewan.
SARS-CoV-2 mungkin berasal dari kelelawar dan dapat dengan mudah menginfeksi banyak hewan, termasuk kucing, kelinci, dan hamster, dan sangat menular di cerpelai.
Sumber: ![]()











