Batam, Metrosidik.co.id – Posisi Batam sebagai kawasan strategis dalam jaringan perdagangan internasional semakin diperkuat oleh pertumbuhan konektivitas pelabuhannya.
Data UN Trade and Development (UNCTAD) mencatat Batam masuk dalam daftar 10 pelabuhan dengan pertumbuhan Port Liner Shipping Connectivity Index (PLSCI) tertinggi di dunia dalam satu dekade terakhir.
Dalam pembaruan data UNCTAD yang dirilis September 2026, pertumbuhan PLSCI dibandingkan periode 2016 hingga 2026 menunjukkan sejumlah pelabuhan mengalami peningkatan konektivitas yang signifikan. Batam Island (Indonesia) termasuk di antara 10 pelabuhan dengan pertumbuhan tertinggi tersebut.
PLSCI merupakan indikator yang menggambarkan tingkat keterhubungan suatu pelabuhan dengan jaringan pelayaran liner global. Indeks tersebut antara lain memperhitungkan layanan kapal terjadwal, kapasitas peti kemas, jumlah layanan dan perusahaan pelayaran, ukuran kapal terbesar, serta jumlah koneksi langsung dengan pelabuhan lain.
Catatan UNCTAD tersebut menjadi gambaran semakin kuatnya posisi Batam dalam jaringan pelayaran global. Kondisi itu juga sejalan dengan upaya Badan Pengusahaan (BP) Batam dalam memperkuat konektivitas pelabuhan, termasuk melalui pengembangan layanan pelayaran langsung atau direct call.
, mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari posisi geografis Batam yang berada di jalur strategis perdagangan internasional.
Namun, menurutnya, keunggulan geografis harus diikuti dengan kesiapan infrastruktur agar dapat memberikan dampak lebih besar terhadap investasi dan perekonomian daerah.
“Keunggulan geografis saja tidak cukup. Kita harus memastikan pelabuhan dan infrastruktur pendukung terbangun maksimal sehingga aktivitas investasi dan industri dapat tumbuh dan memberikan manfaat kepada ekonomi daerah dan masyarakat,” ujar Amsakar, Selasa (29/9/2026).
Direct Call Batu Ampar Meningkat
Penguatan konektivitas tersebut juga tercermin dari meningkatnya aktivitas layanan direct call internasional di Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, layanan direct call internasional di TPK Batu Ampar tercatat mencapai 106 kunjungan kapal. Jumlah tersebut meningkat 212 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebanyak 34 kunjungan.
Dari sisi volume, peti kemas yang dilayani melalui direct call pada periode yang sama mencapai 58.237 TEUs, meningkat 125 persen dibandingkan Januari–Mei 2025 yang mencapai 25.904 TEUs.
Bagi BP Batam, peningkatan tersebut menunjukkan semakin terbukanya akses Batam terhadap jaringan perdagangan internasional.
Konektivitas pelabuhan menjadi salah satu faktor penting bagi kawasan industri seperti Batam karena dapat mendukung pergerakan barang secara lebih langsung sekaligus memperkuat daya saing kawasan dalam menarik investasi.
Amsakar mengatakan penguatan konektivitas akan terus diarahkan agar Batam tidak hanya memiliki posisi geografis yang strategis, tetapi juga didukung infrastruktur yang mampu menjawab kebutuhan dunia usaha.
Konektivitas Batam Merambah Dunia Digital
Penguatan konektivitas Batam juga tidak berhenti pada sektor maritim. Infrastruktur digital turut dikembangkan untuk menjawab kebutuhan industri berbasis teknologi.
Salah satunya melalui Nongsa–Changi Cable (NCC) yang mendarat di Batam pada 20 Juli 2026.
Kabel bawah laut tersebut menghubungkan Nongsa Digital Park di Batam dengan Changi, Singapura, melalui 24 pasang serat optik.
Kehadiran NCC memperkuat konektivitas digital Indonesia–Singapura sekaligus mendukung kebutuhan industri pusat data, komputasi awan, kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), serta interkoneksi data center.
Dengan perkembangan tersebut, konektivitas Batam kini tidak hanya bertumpu pada jalur laut. Jaringan digital juga menjadi bagian penting dari infrastruktur yang menopang pertumbuhan industri dan investasi berbasis teknologi.
Amsakar mengatakan penguatan konektivitas fisik dan digital perlu berjalan beriringan untuk membangun ekosistem investasi yang semakin kompetitif.
“Kita ingin Batam semakin terhubung. Bukan hanya terhubung secara fisik melalui pelabuhan dan jalur perdagangan, tetapi juga terhubung secara digital. Keduanya akan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem investasi dan industri yang memberi kemanfaatan bagi ekonomi kita,” ungkap Amsakar.
Bagi Batam, peningkatan konektivitas tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat perannya dalam jaringan perdagangan dan industri regional. Tantangannya kini adalah memastikan pertumbuhan konektivitas tersebut diikuti peningkatan kapasitas infrastruktur, kualitas layanan, serta kesiapan kawasan dalam menyambut investasi baru.









