Proses Distribusi Vaksin
Pengadaan vaksin Covid-19 oleh pemerintah dilakukan melalui lima jalur, yaitu empat jalur bilateral dan satu jalur multilateral. Lewat jalur bilateral, pemerintah sudah meneken kontrak dengan Sinovac dari Tiongkok untuk pembelian 125 juta dosis vaksin dan memiliki opsi penambahan sebesar 100 juta dosis.
Pemerintah juga telah meneken kontrak pembelian 50 juta dosis vaksin dari Novavax dari Amerika Serikat dan memiliki opsi penambahan sebesar 80 juta dosis. Kemudian, pemerintah meneken kontrak dengan Astrazeneca untuk pembelian 50 juta dosis vaksin dan memiliki opsi penambahan 50 juta dosis.
Pemerintah juga segera memfinalisasi kontrak pembelian 50 juta dosis vaksin dengan Pfizer dan memiliki opsi penambahan 50 juta dosis.
Lewat jalur multilateral, Indonesia mengikuti kerja sama aliansi global untuk vaksin dan imunisasi (GAVI). Perkiraannya, Indonesia akan mendapatkan minimal 54 juta dosis hingga maksimal 108 juta dosis vaksin gratis dari GAVI.
GAVI akan memberikan sejumlah pilihan vaksin kepada Indonesia, yaitu Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan Novavax. Pemerintah pun masih mendiskusikan terkait merek vaksin yang akan dipilih melalui kerja sama GAVI.

Berdasarkan data Kemenkes, vaksin dari GAVI akan tiba secara bertahap sebanyak 6 juta dosis per bulan. Proses pengiriman dilakukan mulai April 2021 hingga Maret 2022.
Kemudian, vaksin Pfizer diperkirakan mendarat di Tanah Air secara bertahap, yaitu 8 juta dosis setiap bulan. Pengiriman Pfizer akan dilakukan selama rentang waktu delapan bulan.
Selanjutnya, vaksin Novavax diperkirakan akan tiba di Indonesia pertama kali pada Juni 2021 sebanyak 4 juta dosis. Selanjutnya, Novavax dikirimkan sebanyak 8 juta dosis per bulan hingga Maret 2022.
Berikutnya, pengiriman vaksin AstraZeneca bakal dilakukan pertama kali pada April mendatang sebanyak 150 ribu dosis. Selanjutnya, vaksin dari Universitas Oxford, Inggris itu dikirim secara bertahap hingga Januari 2022.
Sementara, pengiriman vaksin Sinovac pada tahun ini direncanakan sebanyak 116,58 juta vaksin. Selebihnya, sebanyak 8,92 juta vaksin akan dikirim pada Januari 2022.
Namun, Budi memastikan bahwa rencana pengiriman vaksin itu bersifat dinamis. Ia mengakui, ada kesulitan pergerakan vaksin seiring dengan adanya karantina wilayah atau lockdown di berbagai negara.
Sebagai contoh, India sebagai produsen vaksin terbesar akan memprioritaskan vaksin untuk penduduknya seiring dengan adanya lockdown di berbagai negara. Hal ini pula yang menjadi perkiraan bahwa vaksinasi dilakukan dalam waktu 15 bulan.
“Bottle neck-nya adalah dari produksi vaksin. Jadi bukan masalah kemampuan vaksinasi dari 10 ribuan puskesmas yang kita miliki,” kata Budi.











