“Kami akan segera memenuhi kelengkapan aspek keselamatan sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan FIM,” tutur Bamsoet.
Bamsoet menjelaskan sesuai peraturan FIM, seharusnya terdapat setidaknya delapan orang marshal di setiap pos.
“Inilah yang akan kami lengkapi,” ujar Bamsoet.
Penyelenggara balap motor tingkat nasional dan internasional, Faryd Sungkar, kemudian menegaskan, masalah kualitas dan jumlah marshal tidak bisa disepelekan karena dapat memicu kecelakaan fatal.
“Marshal harus tahu dan mempraktikkan tugas mereka secara detail secara terus menerus. Jika lima hari lagi lomba besar dan marshal belum siap, ini sangat berbahaya,” kata Faryd yang pernah memimpin lomba GP 500 dan SBK pada 1994-1997 di Sirkuit Sentul.
“Jika terjadi kecelakaan fatal karena marshal yang lalai, tercoreng nama bangsa kita,” tutur Faryd menjelaskan.
Menurut Faryd, untuk mengatasi masalah marshal, panitia perlu mendatangkan para chief marshal dari setiap bagian, dari Sirkuit Sentul dan Sirkuit Sepang, guna memimpin, mengawasi, dan meningkatkan kualitas marshal lokal.
Setelah menggelar WSBK, pengelola Sirkuit Mandalika juga harus melatih para marshal dengan intensif untuk menyambut ajang MotoGP.
“Jangan sampai sirkuit yang begitu bagus ternoda oleh kualitas marshal yang buruk. Indonesia bisa kehilangan kepercayaan dunia balap internasional jika hal itu terjadi,” ucap Faryd.











