Metrosidik.co.id – Penandatanganan Kerja Sama (PKS) antara PT Bandara Internasional Batam (BIB) dengan Grab Indonesia dengan System Lock Area menuai konflik. Seluruh komunitas yang ada di Kota Batam, roda dua (R2) maupun roda empat (R4) yang tergabung di dalam Aliansi Driver Online Batam (ADOB) memberikan pernyataan sikap menolak telah diberlakukannya System Lock Area pada hari Jumat(07/07/2023).
Menurut ADOB, diberlakukannya System Lock Area dapat merugikan driver online di Kota Batam.
Feryandi Tarigan selaku perwakilan roda empat (R4) ADOB mengatakan, System Lock Area hanya dikhususkan untuk roda empat (R4) dan hanya segelintir driver online yang dibuat di kawasan Bandara Internasional Batam.
“Dengan diberlakukannya System lock area sangat merugikan driver online di kota Batam khususnya driver grab, karena seharusnya bisa bermanfaat untuk semua driver walaupun tidak semua yang mangkal sekitaran kawasan Bandara Internasional Batam,” katanya.
Lebih lanjut, Feryandi menegaskan setidaknya dengan System Lock Area ini dari segi tarif sudah berbeda dengan tarif yang sudah ada sekarang apalagi seharusnya bisa di sama ratakan tarif dari dan Ke Bandara Internasional Batam.
“Seharusnya tarif grab yang khusus Bandara kan sudah beda dengan tarif yang ada selama ini, alangkah baiknya jika disamakan jadi semua driver juga bisa menikmati harga tarif tersebut, sebagai contoh tarif dari bandara ke nagoya Rp. 130.000,- maka seharusnya ketika pelanggan yang dari nagoya menuju bandara juga harus disamakan tarifnya yakni Rp.130.000,- juga Namun pihak Grab menolak hal tersebut,” tegas Feryandi.
Selain roda empat (R4), Perwakilan roda dua (R2) dalam Aliansi Driver Online Batam Hambali, juga turut mengatakan dengan adanya System lock Area di Bandara ini, driver roda dua (R2) juga ikut kena imbasnya karena kesempatan mendapatkan orderan sudah hilang.
“Kami dari driver roda dua (R2) Grab sangat dirugikan, kami telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penumpang di bandara, karena ada System Lock Area hanya khusus untuk Grab bandara roda empat (R4), dan sudah dipastikan berkurangnya pendapatan kami dari R2 di sekitar kawasan bandara,”ujarnya.
Ia menyampaikan driver roda dua (R2) menolak keras System lock Area karena sudah tidak memandanga hak dari pengguna jasa aplikasi roda dua (R2) yang juga menggunakan layanan jasa aplikasi online ditambah sudah terlalu banyak sistem yang di buat grab yang merugikan kami.
“Kami tolak keras System lock area ini, sudah jelas selain merugikan kami juga merenggut hak penggguna jasa transportasi online yang menggunakan roda dua (R2) diantaranya sistem double order lalu ada juga penurunan Insentif di tambah lagi dengan hilangnya kesempatan kami mendapatkan penumpang di kawasan bandara Internasional Batam, kami pun juga meminta agar bisa mendapatan titik jemput roda dua (R2) di pagar Putih setelah Bundaran Burung sesuai dengan perjanjian diskusi bersama Kapolresta beberapa waktu lalu,” pungkasnya.
Sementara itu, Charista Aprilia selaku Public Relations dari Grab Batam menyampaikan saat ini sedang melakukan koordinasi dengan internal dan akan memberikan keterangan resminya.
“Iya mas, saya sedang kordinasi dengan tim internal, dan akan kami kabari kembali jika sudah ada tanggapan,” kata Charista saat duhubungi melalui Whatapp Sabtu Siang, (08/07/2023).
Informasi yang diterima seluruh driver Online baik roda dua (R2) maupun roda empat (R4) akan melakukan Aksi “OFFBID MASSAL” Akun khusus Aplikator Grab mulai dari tanggal 10 -12 Juli 2023 yang akan diikuti kurang lebih 3000 driver online roda dua (R2) dan roda empat (R4) se-Kota Batam.











