Wakil Ketua DPRA Posting soal Oleh-Oleh
Sementara itu, Wakil Ketua II DPRA Hendra Budian yang menandatangani estimasi biasa kunker ke luar negeri tersebut, tak memberi jawaban apa pun saat dikonfirmasi merdeka.com.
Sebaliknya, Hendra memposting status di media sosial facebooknya terkait polemik kunker ke Amerika Serikat yang memakan biaya ratusan juta dan menjadi perhatian publik di Aceh.
“Harus siapin banyak oleh-oleh nih. Gara-gara udah rame yang tahu,” tulisnya disertai emotikon tertawa.
Dinilai Hanya Jalan-Jalan
Rencana kunker ini mendapat kritik keras dari Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA). Mereka meminta agar agenda itu dibatalkan.
Koordinator MaTA, Alfian, menyebut rencana kunker ke The University Of Rhode Island itu sifatnya tak mendesak dan tak punya manfaat besar bagi kemajuan pendidikan Aceh.
“Lebih baik uang Rp400 juta itu digunakan untuk membangun rumah duafa, peningkatan fasilitas pendidikan dan infrastruktur di daerah yang belum tersentuh,” katanya kepada merdeka.com, Selasa (10/5) malam.
Menurut Alfian, dalih bahwa kunker tersebut dalam rangka memaksimalkan peran legislatif terkait dengan pembangunan strategis Aceh di bidang pendidikan, tidaklah masuk akal. Begitu juga jika dalihnya sebagai bentuk pengawasan. Sebab selama ini, peran pimpinan dan anggota DPRA juga tidak maksimal dalam membangun dunia pendidikan di Aceh. Bahkan, fungsi DPRA sebagai pengawas program-program besar tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.
“Jadi kebijakan kunjungan ke luar negeri ini dibatalkan saja. Sebab kami menilai (kunker) ini hanya jalan-jalan saja yang dibalut dengan narasi pembangunan strategis atau pun pengawasan pendidikan di Aceh,” tutupnya.











