Nilai Tukar Rupiah Mendekati Rp 15 Ribu Buat Fadli Zon Marah, Ini Reaksi Sri Mulyani

Nilai Tukar Rupiah Mendekati Rp 15 Ribu Buat Fadli Zon Marah, Ini Reaksi Sri Mulyani
ILUSTRASI - Fadli Zon

METROSIDIK.CO.ID — Fadli Zon kini kembali mengkritik pemerintah. Kali ini terkait nilai tukar rupiah yang melemah.

Seperti diketahui, kini nilai tukar rupiah mendekati Rp 15 ribu perdolar AS.

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani masih bersikap santai terkait hal tersebut.

Politikus Fadli Zon mengomentari reaksi Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait melemahnya nilai tukar rupiah.

Sekedar informasi nilai tukar rupiah mendekati level Rp15.000 per dolar AS.

Menurut Sri Mulyani meski begitu fundamental perekonomian Indonesia masih cukup baik.

Ia mengakui rupiah memang tertekan akibat berbagai gejolak global yang belum reda mulai dari ancaman lonjakan inflasi hingga krisis keuangan.

“Situasi dunia sekarang memang masih akan sangat dinamis. Namun, kita kan Indonesia dari sisi neraca pembayaran, transaksi berjalannya cukup baik,” ujar Sri Mulyani di Gedung DPR RI, Selasa (5/7/2022).

Baca juga  Pemerintah Turunkan PPh Bunga Obligasi Jadi 10%

Menanggapi reaksi Sri Mulyani, Fadli Zon menilai hal tersebut merupakan argumentasi klasik.

Ia lalu membahas soal krisis ekonomi pada tahun 1997-1998 di Indonesia.

“Argumentasi klasik seperti jelang krisis ekonomi 1997-1998, tak perlu khawatir krn fundamental ekonomi Indonesia kuat.

Akhirnya depresiasi rupiah dari 1 USD = Rp. 2200 menjadi Rp. 16.000.

Krisis moneter lalu krisis ekonomi, sosial dan politik,” tulis Fadli Zon.

Pelemahan Rupiah akan Berlanjut Sampai Rp 16.000, Ini Pemicunya

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dollar AS karena saat ini kondisi pasar keuangan masih dibayangi sentimen negatif.

Baca juga  Luhut Klaim Kasus Covid-19 dan BOR Menurun

Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, sentimen di pasar uang diakibatkan oleh investor yang tengah mencermati risiko kenaikan suku bunga acuan The Fed terhadap Indonesia sehingga melakukan penjualan aset berisiko tinggi.

Selain itu, kondisi pasar uang dunia tengah khawatir akibat adanya sinyal resesi ekonomi global.

Salah satunya, proyeksi Citigroup yang menyatakan risiko dunia mengalami resesi kini sebesar 50 persen dalam 18 bulan ke depan.

“Rupiah secara psikologis berisiko melemah ke Rp 15.500-16.000 (per dollar AS) dalam waktu dekat,” ujar Bhima dilansir Kompas.com, Rabu (6/7/2022).

Baca juga  Viral Medsos Foto Setnov Bawa Ponsel di Lapas, Ini Penjelasan Ditjen PAS

Dia menjelaskan, pemicu pelemahan rupiah yang berlanjut diakibatkan Bank Indonesia (BI) yang masih menahan suku bunga acuan di saat terjadi kenaikan inflasi sebesar 4,35 persen pada Juni 2022.

Seharusnya, menurut dia, BI sudah menaikkan suku bunga acuan hingga 50 basis poin atau 0,5 persen menjadi 4 persen sejak bank sentral AS naikkan suku bunga acuannya secara agresif.

Oleh karenanya, tekanan pada nilai tukar rupiah berpotensi berlanjut apabila pemerintah atau dalam hal ini BI tidak segera merespons ini dengan menetapkan kebijakan moneter yang tepat.

“Ditahannya suku bunga acuan membuat spread imbal hasil US Treasury dengan surat utang SBN (Surat Berharga Negara) semakin menyempit,” ucapnya.

Baca juga  Motor Dicuri Diparkiran, Driver Ojol Perempuan di Surabaya Dapat Ganti dari Presiden Jokowi

Diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tengah berada dalam tren pelemahan selama beberapa waktu terakhir.

Bahkan, pada sesi perdagangan hari ini, Rabu (6/7/2022), kurs rupiah menyentuh Rp 15.000 per dollar AS.

Mengacu kepada data Bloomberg pada pukul 13.00 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp 15.020 di pasar spot.

Nilai tukar rupiah melemah 0,18 persen dari level penutupan perdagangan sebelumnya, sebesar Rp 14.993,5 per dollar AS.

 

jasa website rumah theme

Pos terkait