Menelisik Sayembara Amat Yani

Pilkada semakin dekat, tinggal menghitung hari, 9 Desember menjadi hari penentu siapa yang bakal duduk di singgasana kekuasaan pada pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah yang digelar serentak tahun ini.

Masa kampanye memperkenalkan diri dan menyampaikan janji politik kepada masyarakat akan berakhir pada tanggal 6 Desember. Selama tiga hari itu, disebut sebagai hari tenang.

“Serangan fajar,” menjadi momok menakutkan bagi para petarung. Sebab, di masa itu praktek money politik gencar dilakukan. Bagi sebagian orang itu hal biasa, bahkan ada yang mencari kesempatan untuk keuntungan pribadi. Katakanlah selagi ada kesempatan, kapan lagi, lima tahun sekali kok.

Suhu politik pada Pemilukada di Kabupaten Kepulauan Anambas tahun ini sedikit seksi bila dibandingkan tahun lalu, yang hanya ada dua pasang calon. Tahun ini lumayan, pesta demokrasi lebih berwarna oleh tiga pasang calon. Dari ketiga pasang calon satu diantaranya menjadi perhatian, sebab mereka maju dengan jalur perseorangan. Sebagian menganggap merupakan sejarah baru di Pilkada Kabupaten Kepulauan Anambas kali ini.

Tapi belakangan ada yang lebih menarik perhatian publik, yakni sayembara yang ditaja salah satu tokoh politik dan juga anggota legislatif DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas, Amat Yani. Beliau politikus senior dari Partai Bulan Bintang inisiator sayembara yang berhadiah 50 juta rupiah.

Sayembara yang ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat Kepulauan Anambas tentunya sebuah pesan moral yang dalam terhadap bahayanya money politik yang akan merontokkan idealisme dan moral sang “raja”. Tentu, langkah politikus senior ini patut diberikan apresiasi.

Hadiah akan diberikan, bagi siapa saja yang dapat menangkap, melapor, dan terbukti di persidangan pengadilan dengan kekuatan hukum yang tetap maka kita akan berikan reward atau uang tunai sebesar Rp. 50 juta rupiah sebagai apresiasi serta Penghargaan sebagai pahlawan demokrasi tahun ini. Itulah kutipan sayembara tersebut.

Tapi sayembara ini rasanya akan lebih mendapat atensi publik jika diinisiator oleh Bawaslu atau organsiasi non pemerintah. Bukan berarti sayembara yang diinsiator atau dimumkan oleh politikus senior ini tidak mendapat reaksi. Hanya saja, berbagai persepsi berkecamuk dalam benak, tergantung cara berpikir masing-masing kepala.

Selain sebagai inisiator sayembara berhadiah 50 juta itu, Amat Yani diketahui sebagai ketua badan tim pemenang salah satu pasangan calon yang ikut bertarung dalam Pilkada. Posisi ini sedikit mempengaruhi kredibilitas serta dapat mengaburkan tujuan sayembara itu.

Lalu, apakah kedua pasang calon lain akan dianggap sebagai kandidat bakal melakukan money politik? Kemudian, apakah Paslon yang didukung Amat Yani bersih dari pratek money politik?Atau upaya strategi politik berkedok sayembara?

Itulah sederetan pertanyaan yang berkecamuk dalam benak. Apapun itu, mari kita tolak perbuatan money politik yang merusak tatanan demokrasi.

jasa website rumah theme