Daya Beli Properti Lemah, Pelonggaran LTV Tak Berdampak Signifikan

Daya Beli Properti Lemah, Pelonggaran LTV Tak Berdampak Signifikan
Pelonggaran LTV dinilai tak berdampak signifikan karena daya beli masyarakat lemah. Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA, METROSIDIK.CO.ID — Bank Indonesia melonggarkan aturan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) untuk kredit dan pembiayaan properti menjadi paling tinggi 100 persen.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai kebijakan tersebut tidak terlalu mendorong konsumsi masyarakat.

“Meski akan mendorong tumbuhnya konsumsi tapi saya kira tidak akan sangat besar,” kata Piter, Minggu, 21 Februari 2021.

Hal itu dikarenakan yang membutuhkan dan ingin membeli rumah umumnya adalah masyarakat dengan ekonomi menengah bawah. Tetapi di tengah pandemi saat ini justru mereka yang paling terdampak pandemi.

“Mereka kehilangan pekerjaan dan income. Jadi sulit untuk mereka memanfaatkan turunnya LTV demikian juga dengan kendaraan,” ujarnya.

Menurutnya yang akan memanfaatkan relaksasi tersebut adalah masyarakat yang masih memiliki pekerjaan dan masih memiliki pendapatan.

“Jadi tidak semua masyarakat yang membutuhkan rumah dan mobil akan memanfaatkan turunnya LTV atau memanfaatkan relaksasi tersebut. Hanya sebagian yang masih punya daya beli. Tapi Itu sudah cukup meningkatkan konsumsi,” ungkap Piter.

Hal senada diungkapkan Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti. Menurutnya relaksasi tersebut tidak akan meningkat signifikan karena daya beli konsumen sedang lemah akibat pandemi.

“Kemungkinan yang akan memanfaatkan yang masih memiliki pekerjaan atau mereka yang PHK kemudian menjadi driver online. Akan nekat mengambil kredit mobil DP nol persen dan cicilan tinggi,” ucapnya.

 

 

 

Sumber: 

 

jasa website rumah theme