BEI Kantongi 10 Sukuk Korporasi Dalam Pipeline, Bernilai Rp 10,5 triliun

BEI Kantongi 10 Sukuk Korporasi Dalam Pipeline, Bernilai Rp 10,5 triliun
ILUSTRASI. Karyawan melintas di bawah layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (20/5/2020). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.

JAKARTA, METROSIDIK.CO.ID — Penerbitan surat utang korporasi tahun ini bakal semarak. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna, mengatakan, per tanggal 16 Februari 2021, jumlah dan nilai obligasi/sukuk korporasi yang ada di pipeline BEI sebanyak 10 emisi.

Jumlah ini terdiri dari 3 emisi sukuk dan 7 emisi obligasi, dengan total emisi yang akan diterbitkan sebesar Rp10,5 triliun.  Sebanyak 10 emisi obligasi dan sukuk yang terdapat dalam pipeline tersebut diterbitkan oleh 8 perusahaan tercatat,  dimana terdapat perusahaan yang menerbitkan obligasi dan sukuk secara bersamaan.

Nyoman menyebut, outstanding obligasi korporasi mulai menunjukkan pertumbuhan pasca adanya penurunan yang disebabkan oleh pandemi. Dia bilang, ada beberapa faktor yang diperkirakan menjadi katalis bagi pendanaan korporasi di pasar modal.

Pertama, kebijakan moneter dan fiskal yang tetap akomodatif. Ruang penurunan suku bunga akan berlanjut/ tren suku bunga rendah akan menurunkan cost of fund penerbitan surat utang korporasi.

Kedua, momentum prospek pemulihan ekonomi 2021. Adanya kebutuhan dana ekspansi perusahaan di tahun 2020 yang tertunda, serta adanya tren refinancing perusahaan atas utang jatuh tempo.

Ketiga, stimulus dari bank sentral meningkatkan likuiditas di pasar keuangan  (penempatan dana perbankan di pasar obligasi diperkirakan meningkat).

Keempat, tren pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah kebijakan akomodatif AS . Aliran dana asing diperkirakan kembali ke pasar negara berkembang untuk mencari imbal hasil yang lebih tinggi.

“Secara umum,  kondisi tersebut memberikan optimisme akan pertumbuhan ekonomi dan diharapkan penerbitan Obligasi dan Sukuk di tahun ini lebih kondusif dibandingkan tahun 2020,” terang Nyoman kepada media.

Adapun terkait dengan opportunity penerbitan obligasi dan sukuk di tahun ini, dapat dilihat pada aspek likuiditas obligasi dan sukuk di pasar sekunder.

Dari data yang diperoleh, sepanjang tahun 2020 lalu, peningkatan investor di pasar modal yang terdiri atas investor saham, obligasi, maupun reksadana, mengalami kenaikan 56%, mencapai 3,88 juta investor.

Nyoman menyebut, jumlah ini melonjak hingga 4 kali lipat dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Kondisi tersebut memberikan optimisme akan likuiditas obligasi maupun sukuk, dimana dapat menjadi alternatif pilihan investasi yang menarik bagi investor.

Sampai dengan  16 Februari 2021, total emisi obligasi dan sukuk baru yang dicatatkan sepanjang tahun 2021 sudah mencapai Rp 5,11 triliun.

 

 

 

Sumber: 

 

jasa website rumah theme