Rupiah Dalam Sepekan Menguat 0,33%, Bagaimana Prospek Pekan Depan?

Rupiah Dalam Sepekan Menguat 0,33%, Bagaimana Prospek Pekan Depan
ILUSTRASI. Petugas teller memperlihatkan pecahan 100 dollar US dan pecahan 100 rupiah di salah satu bank di Jakarta, jumat (5/2). ./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/05/02/2021.

JAKARTA, METROSIDIK.CO.ID — Dengan tidak adanya perdagangan pada hari ini, Jumat (12/2), rupiah di pasar spot berhasil mengakhiri perdagangan pekan ini dengan kinerja yang memuaskan.

Pada perdagangan kemarin, Kamis (11/2), rupiah ditutup menguat 0,09% ke Rp 13.970 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara jika dihitung dalam sepekan, rupiah sudah catatkan penguatan sebesar 0,33%.

Kondisi yang berbeda justru terjadi di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah ditutup di Rp 14.011 per dolar AS atau melemah 0,16%. Walau begitu, jika dihitung dalam sepekan, mata uang Garuda ini masih berhasil catatkan penguatan 0,36%.

Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana mengatakan, sepekan ini sentimen utama yang mendorong penguatan rupiah adalah melemahnya dolar AS. Salah satu faktornya adalah sikap The Fed yang masih tetap dovish membuat kinerja dolar AS pun tertekan.

“Apalagi, stimulus dari Joe Biden juga sudah terealisasikan yang pada akhirnya semakin membuat indeks dolar AS melemah. Di satu sisi, harga komoditas terus membaik yang akan mendorong negara-negara yang fokus ekspornya adalah komoditas berpotensi mengalami perbaikan kinerja ekspor, termasuk Indonesia,” kata Fikri ketika dihubungi Kontan.co.id, Kamis (11/2).

Lebih lanjut, Fikri memperkirakan, dengan nilai ekspor yang membaik, neraca perdagangan Indonesia akan kembali surplus pada akhir bulan nanti. Selanjutnya, cadangan devisa Indonesia pun semakin membaik dan berujung pada kinerja rupiah yang juga membaik.

Sementara untuk pekan depan, sentimen dari Indonesia masih akan seputar pertambahan kasus positif Covid-19 serta efektivitas PPKM. Di satu sisi, Fikri menilai rupiah yang berpotensi mendapat katalis positif dari hasil lelang Surat Berharga Negara (SBN).

“Saat ini dengan yield SBN yang 10 tahun ada di kisaran 6,2%, sebenarnya sangat menarik bagi investor asing. Oleh karena itu, ada potensi investor asing yang masuk ke lelang SBN akan lebih tinggi dari biasanya, apalagi dengan kinerja rupiah yang terjaga belakangan ini,” tambahnya.

Fikri memperkirakan, sepekan ke depan rupiah akan bergerak pada rentang Rp 13.900 – Rp 14.100 per dolar AS.

 

 

 

 

 

Sumber: 

 

jasa website rumah theme