Masa Pandemi Picu Adaptasi Digitalisasi Industri Logistik

Masa Pandemi Picu Adaptasi Digitalisasi Industri Logistik
Ilustrasi angkutan logistik (Foto: Kompas.com)

JAKARTA, METROSIDIK.CO.IDPandemi Corona yang telah berjalan hampir setahun telah mendisrupsi semua industri di Indonesia, tak terkecuali industri logistik. Para pelaku usaha pun harus mengambil langkah cepat untuk beradaptasi agar bisa bertahan selama pandemi.

Disrupsi industri logistik sendiri bisa dilihat berkurangnya loading cargo dari trailer dan kontainer. Hal itu bisa terjadi akibat adanya pembatasan transportasi akibat perusahaan harus menegakkan keamanan yang lebih tinggi. Hasilnya, membuat rantai pasok terganggu dan berdampak pada penurunan volume kontainer di berbagai daerah.

Contohnya saat ini sedang hobi bersepeda booming, namun karena rantai pasok terganggu seorang penghobi sepeda harus berebut demi mendapatkan part sepeda incarannya. Pada webinar bedah buku Circle of Logistics, bahwa ada tiga fase perubahan akibat pandemi. Fase normal atau kita melakukan kebiasaan seperti biasa, selanjutnya ialah new normal atau kita melakukan adaptasi untuk bisa bertahan.

“Kita bisa mengatakan tahap ini adalah survival mode, baik untuk perusahaan maupun human resource-nya. Lanjut ke ‘next normal’ fase ini merupakan proses recovery dan growth. Kalau sekarang sendiri, sebagian perusahaan masih ada di step recovery dan sebagian masih tahap survival,” ujar Penulis buku Circle of Logistics Zaroni Samadi dalam keterangan resmi, Sabtu (6/2).

Namun terlepas dari posisi perusahaan logistik saat ini, faktanya pola konsumsi masyarakat sudah mengalami perubahan dari offline menjadi online, sehingga hal ini harus diantisipasi oleh pelaku industri logistik karena tren masa depan akan mengacu pada stay at home economy atau pola berbelanja daring dimulai dari belanja bahan makanan, jasa pesan antar makanan, telekomunikasi dan lain-lain.

“Tapi, itu semua tak akan bisa terjadi kalau tidak ada logistik dan platform e-commerce. Tidak bisa kalau industri logistiknya terganggu. Karena kalau industri logistik terganggu atau belum siap, dampaknya muncul sejumlah masalah, yaitu pasokan material berkurang, fluktuasi harga karena suatu barang sulit didistribusikan, kekurangan stok, pengiriman yang lambat, maupun penghentian produksi atau distribusi,” ungkap pria yang menjabat sebagai Direktur PT Pos Logistik Indonesia tersebut.

Atau dengan kata lain, logistik punya peran penting dalam kondisi pandemi saat ini. Hal inilah, aku Zaroni, pentingnya para pelaku industri harus melakukan inovasi secepatnya. Karena sebenarnya demand barang tertentu yang ingin didistribusikan itu tetap ada, yang berubah ialah cara mengaksesnya saja.

“Betul, di pandemi ini kita memang harus berinovasi pada value, apakah melakukan program bundling atau melakukan pivot bisnis agar bisa survive, contohnya dengan membuat hand sanitizer. Tapi sebenarnya hikmah di masa pandemi ini, kita dipaksa untuk switch ke digital agar tim logistiknya bisa jalan. Jadi, kondisi ini, mau tidak mau, suka tidak suka, mendorong digitalisasi logistik,” ucapnya.

Sementara Managing Director Cikarang Dry Port Benny Woenardi menambahkan proses digitalisasi harus dilakukan agar perusahaan bisa mengimbangi tren konsumsi masyarakat yang telah berubah. Cikarang Dry Port sendiri sudah berjalan ke arah sana dan menurutnya sudah berada di evolusi yang tepat.

Perlu diketahui, Cikarang Dry Port adalah salah satu anak perusahaan Jababeka Group yang berada di Kota Jababeka Cikarang dengan tujuan memfasilitasi kebutuhan proses logistik ekspor impor para tenan industri.

“Saya kira, kami sudah dalam jalur yang tepat. My CDP, aplikasi layanan logistik telah kami rilis bagi pelanggan Cikarang Dry Port pada 2018 yang bisa diakses melalui ponsel pintar android dan telah memasuki tahap dua dengan menambahkan fitur pembayaran secara online,” ucapnya.

 

 

 

 

Sumber: 

 

jasa website rumah theme