Ketidakpastian Pandemi Corona, Pengusaha Masih Lakukan Wait and See

Ketidapastian Pandemi Corona, Pengusaha Masih Lakukan Wait and See
Anggawira (Foto: Beritasatu.com- Istimewa)

JAKARTA, METROSIDIK.CO.ID — Pengusaha masih menunggu situasi (wait and see) di tengah ketidakpastian era pandemi Covid-19 yang menyebabkan rendahnya pengajuan kredit saat ini. Terus meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia, yang memaksa pemerintah memberlakukan protokol kesehatan, semakin mempersulit dunia usaha untuk ekspansi.

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira kepada Beritasatu.com, Sabtu (6/2/2021). Menurut Angga, pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) semakin menyulitkan dunia usaha.

“Secara otomatis, pengetatan mobilitas akan mengurangi konsumsi masarakat dan pada gilirannya memukul dunia usaha,” kata dia. Faktor tersebut membuat pengusaha wait and see untuk melakukan ekspansi sehingga otomatis pengajuan kredit masih rendah.

Belum lama ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa fungsi intermediasi dari sektor keuangan masih lemah, tercermin dari pertumbuhan kredit yang masih terkontraksi, yaitu sebesar 2,41% (year on year/yoy) pada Desember 2020 di tengah likuiditas yang masih tinggi.

Perry memandang, pertumbuhan kredit yang rendah disebabkan oleh sisi permintaan dari dunia usaha, di samping karena persepsi risiko dari sisi penawaran perbankan. Di sisi lain, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tetap tinggi yaitu sebesar 11,11% (yoy).

Menurut Angga, pengusaha masih wait and see untuk melakukan ekspansi di tengah masih tingginya angka Covid-19 di Indonesia. “Harapan bisa ekspansi adalah program vaksinasi dan kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan, yang bisa dilakukan dengan law enforcement sehingga menciptakan trust di masyarakat,” kata dia.

Pemberlakukan protokol kesehatan yang lebih ketat dan mengurangi mobilitas masyarakat akan berdampak pada dunia usaha. Ia berharap pemerintah bisa membuat terobosan di tengah pandemi agar pengusaha, khususnya UMKM bisa tetap jalan.

Penurunan suku bunga, kata dia, tak akan banyak manfaatnya jika dunia usaha macet. Ia juga berharap agar relaksasi kredit juga dibarengi dengan restrukturisasi sehingga pengusaha mendapat keringanan.

 

Kredit BRI

Berdasarkan data Investor Daily, salah satu bank yang dianggap berhasil mendorong pertumbuhan kreditnya adalah BRI, di mana penyaluran total kredit BRI telah mencapai Rp 938,37 triliun atau tumbuh 3,89% sepanjang tahun 2020.

Yang menggembirakan, kredit mikro BRI mampu tumbuh double digit sebesar 14,18%. Angka tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit nasional tahun 2020 yang diperkirakan OJK berada dikisaran minus 1 hingga 2%.
Saat ini, BRI gencar menyasar kredit ultra mikro yang minim akses pendanaan untuk diberikan fasilitas pinjaman murah via layanan digital.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, saat ini, baru sekitar 20% usaha ultramikro yang memiliki akses pembiayaan. “Mudah-mudahan kami bisa melayani masyarakat sebanyak mungkin dengan biaya yang semurah mungkin,” kata Sunarso, Jumat (5/2/2021).

Dia mengungkapkan, selama ini sekitar 5 juta pengusaha ultramikro mencari sumber pendanaan dari rentenir dengan bunga tinggi, 7 juta dari kerabat, dan 18 juta lagi masih bingung harus kemana mencari pinjaman. “Kami mencari sasaran yang lebih kecil, tetapi jumlahnya banyak. Prosesnya memang harus digital, pelayanan melalui platform digital supaya cepat,” ujar Sunarso.

Usaha ultramikro berada di bawah usaha mikro, dengan ticket size di bawah Rp 10 juta. Tenor pinjaman bisa lebih pendek, karena banyak dari pelaku usaha ultra mikro kebutuhan pinjamannya harian.

Menyasar usaha ultramikro, kata dia, adalah bagian dari strategi BRI untuk menumbuhkan sumber-sumber pertumbuhan baru. Selain itu, emiten berkode saham BBRI itu mendorong nasabah mikro dan kecil untuk naik kelas.

Pada 2021, BRI optimistis kredit mampu tumbuh di atas rata-rata industri nasional, dengan faktor pendukungnya loan to deposit ratio (LDR) yang terjaga di level 83,7% dibarengi perbaikan daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga. Per Desember 2020, kredit BRI mencapai Rp 938,37 triliun atau tumbuh 3,89%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kredit nasional yang diperkirakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turun 1-2%.

 

 

 

Sumber: 

 

jasa website rumah theme