Kenali Sosok Bendahara DPC Demokrat Yang Tampung Suap Bupati Penajam Paser Utara

  • Whatsapp
Kenali Sosok Bendahara DPC Demokrat Yang Tampung Suap Bupati Penajam Paser Utara
Bendahara DPC Partai Demokrat Balikpapan, Nur Afifah Balqis yang bersama Bupati Penajam Paser Utara, Abdul Gafur Mas'ud ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan suap proyek dan perizinan. (Foto: Instagram @nafgis_)

JAKARTA, METROSIDIK.CO.ID — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur Mas’ud sebagai tersangka kasus dugaan suap proyek dan perizinan Pemkab PPU.

Selain sang bupati, KPK juga menetapkan sejumlah pihak sebagai tersangka kasus yang terungkap melalui operasi tangkap tangan (OTT) tersebut. Salah satu tersangka yang dijerat lembaga antikorupsi adalah sosok perempuan muda yang menjabat sebagai Bendahara DPC Partai Demokrat Balikpapan Nur Afifah Balqis.

KPK mengungkapkan Nur Afifah memiliki peran penting dalam dugaan suap ini. Nur Afifah disebut menerima, menyimpan dan mengelola uang suap yang diterima Abdul Gafur untuk memenuhi keperluan pribadi sang bupati. Orang nomor satu di Kabupaten PPU itu sendiri diketahui juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Balikpapan.

Baca juga  Kejagung Siapkan 13 Berkas Perkara Jiwasraya untuk Diajukan ke Pengadilan Tipikor

“Tersangka AGM (Abdul Gafur Mas’ud) diduga bersama tersangka NAB (Nur Afifah Balqis), menerima dan menyimpan serta mengelola uang-uang yang diterimanya dari para rekanan di dalam rekening bank milik tersangka NAB yang berikutnya dipergunakan untuk keperluan tersangka AGM,” kata Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (13/1/2022) lalu.

Alex, sapaan Alexander Marwata memaparkan Abdul Gafur memerintahkan salah seorang kepercayaannya, Nis Puhadi untuk mengumpulkan sejumlah uang dari beberapa kontraktor di salah satu kafe di Kota Balikpapan dan di daerah sekitar Pelabuhan Semayang.

Pengumpulan uang tersebut dilakukan melalui Plt Sekda Kabupaten PPU Muliadi; Kabid Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten PPU Jusman; dan staf di Dinas PUPR Kabupaten PPU.

Baca juga  Aksi Damai Karyawan Perusahaan Alkes Desak Pemerintah Berantas Mafia Antigen

Setelah itu, terkumpul uang dalam bentuk tunai sekitar Rp 950 juta. Abdul Gafur lalu memerintahkan Nis Puhadi untuk membawa uang tersebut ke Jakarta.


Setibanya di Jakarta, Nis Puhadi dijemput oleh orang kepercayaan Abdul Gafur lainnya yakni Rizky untuk menyerahkan uang yang telah terkumpul ke Abdul Gafur. Bupati PPU itu kemudian mengajak Nis Puhadi dan Nur Afifah untuk pergi ke salah satu mal di wilayah Jakarta Selatan dengan membawa uang Rp 950 juta yang berhasil terkumpul sebelumnya.

Di sini lah kemudian Abdul Gafur memerintahkan Afifah untuk menambahkan uang sejumlah Rp 50 juta dari uang yang ada di rekening bank miliknya, sehingga terkumpul Rp 1 miliar. Uang tersebut lalu dimasukkan ke dalam koper yang juga telah disiapkan oleh Nur Afifah.

Baca juga  Firli Bahuri Sebut KPK Manfaatkan Perjanjian Ekstradisi Indonesia-Singapura

“Ketika AGM, NP (Nis Puhadi), dan NAB berjalan keluar dari lobby mal, tim KPK seketika itu langsung mengamankan AGM, NP, dan NAB dan pihak lainnya serta uang tunai sejumlah Rp 1 miliar,” ungkap Alex.

Selain menyita uang Rp 1 miliar tersebut, KPK juga menemukan uang Rp 447 juta yang tersimpan di rekening milik Nur Afifah. Uang di rekening tersebut diduga merupakan milik Abdul Gafur yang bersumber dari sejumlah rekanan.

Adapun di saat yang sama, KPK juga melakukan penangkapan pihak lain di Jakarta seperti Muliadi dan istrinya WL serta seorang swasta Achmad Zuhdi.

 

 

jasa website rumah theme


Dapatkan Pelanggan Anda!
Dengan Pasang Iklan Banner....


Pos terkait