Sidang Lanjutan Terkait Suap Izin Ekspor Benur, 4 Pengakuan Stafsus Edhy Prabowo

  • Whatsapp
Sidang Lanjutan Terkait Suap Izin Ekspor Benur, 4 Pengakuan Stafsus Edhy Prabowo
Edhy Prabowo. (Foto: Antara)

JAKARTA, METROSIDIK.CO.ID — Sidang lanjutan perkara suap izin ekspor benih lobster atau benur yang melibatkan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo kembali digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu, 24 Februari.

Agenda sidang kali ini menghadirkan saksi Safri Muis, salah satu staf khusus Edhy Prabowo yang diduga telah menerima uang suap dari Suharjito untuk diberikan kepada mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut.

Suharjito sendiri merupakan pemilik PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPP) yang menyuap Edhy Prabowo dalam kasus suap ezin ekspor benur.

Saat memberi kesaksikan di hadapan majelis hakim, Safri membeberkan sederet pengakuan. Salah satunya mengaku pernah menerima SGD 26 ribu dari Suharjito di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Diberikannya uang tersebut menurut Safri dinilai sebagai bentuk terima kasih karena usaha benur terdakwa berjalan lancar.

“Saya pikir dia kasih saya karena usaha lobsternya sudah lancar,” kata Safri dalam sidang kasus yang juga menjerat Edhy Prabowo di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu.

Tak hanya itu, staf khusus Edhy Prabowo ini juga mengaku bahwa dirinya diminta mantan Menteri KKP tersebut untuk membeli delapan sepeda senilai Rp 168 juta.

Berikut deretan pengakuan Safri Muis dalam sidang lanjutan kasus suap izin ekspor benih lobster dilansir dari Liputan6.com:

 

1 Diberi Uang Rp 168,4 juta untuk Beli Sepeda

Safri mengaku pernah diminta Edhy Prabowo selaku Menteri KKP membeli delapan buah sepeda. Safri mengaku diberi uang Rp 168,4 juta yang dikirim melalui rekening Ainul Faqih, yang merupakan staf khusus dari istri Edhy, yakni anggota DPR Iis Rosita Dewi.

“Ya. Ada itu uang beli sepeda. Itu untuk Pak Menteri (Edhy Prabowo),” ujar Safri dalam kesaksiannya.

Jaksa kemudian membacakan berita acara pemeriksaan Safri dalam proses penyidikan. BAP nomor 16 itu berkaitan dengan pengakuan Safri soal perintah membeli sepeda untuk Edhy Prabowo.

Baca juga  Mantan Anggota BPK Didakwa Terima Suap Rp 1,3 Miliar

“Uang sejumlah Rp 168,4 juta dari rekening BNI milik Ainul Faqih, saya belikan sepeda seharga Rp 14 juta per-unit, atas perintah Edhy Prabowo. Edhy saat itu memerintahkan agar delapan tersebut ditaruh di Widya Chandra. Lalu sisa uangnya saya belikan handphone Samsung,” kata jaksa.

Pada dakwaan, jaksa menyebut pembelian sepeda terjadi pada 24 Agustus 2020. Dari uang Rp 168,4 juta itu dibelikan delapan buah sepeda yang kemudian sisanya dibelikan dua ponsel merek Samsung.

Delapan sepeda tersebut sudah disita tim penyidik KPK saat menggeledah rumah dinas Edhy Prabowo di Widya Chandra pada Rabu, 2 Desember 2020. Saat penggeledahan tersebut, selain menyita delapan buah sepeda, tim penyidik juga menyita uang Rp 4 miliar.

 

2. Tak Menampik KKP Terima Rp 1.500 Tiap Ekor Benur

Safri pun menyebut bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dipimpin Edhy menerima Rp 1.500 dari satu ekor benih lobster atau benur yang diekspor ke luar negeri.

Hal itu terungkap saat jaksa penuntut umum KPK membacakan berita acara pemeriksaan Safri saat proses penyidikan. Perlu diketahui, Safri yang dijerat dalam perkara ini dihadirkan sebagai saksi dalam perkara suap ekspor benur dengan terdakwa Pemilik PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito.

“Dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saudara mengatakan ‘saya tidak tahu jasa kargo ekspor BBL (Benih Bening Lobster) tapi saya tahu dari Andreau (Pribadi Misanta-stafsus Edhy yang lain) bahwa biaya ekspor adalah Rp 1.800 per-ekor berdasakan kesepakatan KKP dengan perusahaan forwarder yaitu PT ACK, di mana KKP mendapat Rp 1.500 per-ekor dan PT ACK mendapat Rp 300 per-ekor’, keterangan ini benar?” tanya jaksa KPK Siswhandono di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu, 24 Februari kemarin.

Baca juga  Kebakaran Kilang Pertamina Balongan, 5 Desa di Indramayu Mengungsi

Safri mengaku tak ingat dengan isi BAP yang dituangkan dalam proses penyidikan. Namun Safri menyatakan tak akan mengubah keterangan yang telah dia sampaikan kepada penyidik.

“Saya tidak ingat. Tapi kalau keterangan BAP, saya tetap,” kata Safri.

 

Pos terkait

jasa website rumah theme