Press "Enter" to skip to content

Kemesraan di Baitul Ma’mur Anambas


Masjid Baitul Ma’mur Anambas yang berdiri kokoh di bumi”Kayuh Serentak, Langkah Sepijak” pada Kamis itu menjadi perhatian publik hingga para pewarta. Media lokal, dan nasional tampak berjejer sembari menunggu untuk mengabadikan momen atas kedatangan kedua pejabat tinggi negeri ini. Mereka dari ibu kota, dan bagian dari istana, siap meresmikan Masjid Baitul Ma’mur yang telah digadang-gadangkan sebagai ikon wisata religi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas.

Kedua pejabat itu adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD, dan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menteri kabinet presiden Joko Widodo. Meskipun hujan deras, prosesi peresmian rumah ibadah itu terlaksana dengan penuh hikmad, dan disertai beberapa kata sambutan, mulai dari kepala daerah, hingga dilanjutkan menteri Mahfud MD.

Momen saat Bupati dan Wabup sepayung berdua

Hampir luput dari pantauan publik, banyak yang terfokus kepada kedua pejabat penting itu. Disela-sela hujan deras, masing-masing pejabat tinggi dilindungi payung berwarna silver yang disediakan Pemda setempat. Lampu blitz dari kamera wartawan saling adu kecepatan, manangkap momen agar menghasilkan jepretan terbaik.

Tak disangka, dari puluhan jepretan kamera android, telah berhasil mengabadikan momen kemesraan antara kedua elit pemerintah di Kabupaten Kepulauan Anambas. Kemesraan itu tertangkap kamera, ketika Wakil Bupati Kepulauan Anambas Wan Zuhendra, berpayung berdua bersama Abdul Haris Bupati Kepulauan Anambas.

Kemesraan itupun patut diperbincangkan. Soalnya, kedua elit ini dikabarkan bakal bertarung kembali di Pilkada depan. Memang belum ada tanda-tanda keduanya akan pecah kongsi dalam pilkada yang bakal diwacanakan pada Desember tahun ini. Masing-masing elektabilitas kedua elit inipun mulai diperbandingkan.

Ada yang menyebut elektabilitas Wan Zuhendra lebih unggul, jika dibandingkan Abdul Haris. Juga sebaliknya, Abdul Haris disebut-sebut masih mendominasi dalam meraup suara di akar rumput. Argumen itupun terus terdengung, dan liar menjadi pembicaraan di segala lini.

Apapun persepsi dan argumen yang berkembang terhadap kedua elit itu, setidaknya momen sepayung berdua itu menggambarkan adanya hubungan harmonis. Wan Zuhendra memang dikenal rendah hati dan no profil. Sehingga, wajar-wajar saja momen itu. Sementara, Abdul Haris dikenal agamais. Kita hanya menunggu, mungkinkah mereka akan sepayung berdua kembali di Pilakda depan?.

*Fitra